✨ Kata-Kata Galau Aesthetic
✨ Kata-Kata Galau Aesthetic
“Aku belajar menerima bahwa beberapa orang memang cuma datang untuk sementara. Mereka hadir membuat kita bahagia, lalu pergi meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Dan yang paling aneh adalah… kita tetap merindukan mereka, bahkan setelah mereka membuat kita patah.”
“Aku sering tersenyum biar terlihat baik-baik saja, padahal dalam hati aku masih menyimpan hal-hal yang membuatku sesak. Mungkin aku terlihat kuat, tapi sebenarnya aku cuma tidak punya pilihan selain bertahan.”
“Aku takut berharap lagi, karena aku sudah pernah jatuh terlalu dalam. Rasanya seperti membangun sesuatu dengan sepenuh hati, lalu melihatnya runtuh dalam sekejap tanpa bisa diselamatkan.”
“Kadang aku iri sama orang-orang yang bisa dengan mudah melepaskan. Sementara aku masih disini, berjuang melupakan seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar memperjuangkanku.”
“Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa tanpa kamu. Tapi setiap malam, kenyataannya tetap sama… aku masih mencari bayang-bayangmu dalam sunyi yang paling dalam.”
“Aku sudah terbiasa kehilangan, tapi entah kenapa kamu jadi kehilangan yang paling sulit aku terima. Mungkin karena aku benar-benar berharap kamu adalah tempat pulang, padahal kamu cuma persinggahan.”
“Tidak ada yang lebih menyakitkan selain mencintai seseorang yang tidak pernah mengerti betapa kerasnya kamu memperjuangkannya.”
“Aku nggak marah kamu pergi. Aku cuma sedih karena aku yang selalu tinggal justru tidak pernah cukup untuk kamu.”
“Kamu tahu yang paling menyakitkan? Saat kita mencoba tetap di sisi seseorang yang perlahan-lahan menjauh, seakan kehadiran kita tidak pernah berarti apa-apa.”
“Aku masih menunggu, padahal aku sendiri tahu… kamu tidak akan kembali. Tapi entah kenapa hati selalu mencari-cari cara untuk tetap berharap walau logika sudah lelah.”
“Aku pernah merasakan dicintai, dan itu indah. Tapi aku juga pernah merasakan ditinggalkan tanpa alasan, dan itu hancur. Dua hal itu ternyata yang membuatku jadi sedewasa ini.”
“Ada kalanya aku ingin kembali ke masa ketika hatiku belum kenal kecewa. Masa ketika aku masih percaya bahwa setiap orang yang datang akan tetap tinggal.”
“Susah ya… berdamai dengan rasa yang kamu ciptakan, tapi kamu sendiri yang menghancurkannya.”
“Seandainya hati bisa memilih, aku ingin berhenti peduli. Tapi sayangnya, perasaan tidak pernah punya tombol untuk dimatikan.”
“Aku masih ingat semua tentang kamu, bahkan hal-hal kecil yang sudah lama kamu lupakan.”
“Aku ingin memaafkan, tapi setiap kali aku mencoba, rasa sakitnya muncul lagi. Seolah-olah luka itu belum benar-benar sembuh.”
Komentar
Posting Komentar